PENGALAMAN YG KERAS MUSISI INDONESIA DI AUSTRALIA

July 22, 2015 2:38 am

image

      Nama saya Budi Boné dan ini cerita usaha saya mengibarkan bendera merah putih melalui kemampuan bermusik yang saya miliki di Negeri orang.
Saya musisi dari Bali yg memulai karir sebagai penyanyi profesional di hotel2 berbintang di Bali sejak tahun 1990. Saya dan keluarga pindah ke Central Coast, NSW Australia tahun 2005. Setelah anak saya yang pertama lahir disini kami ingin kembali ke Bali, tetapi Bom Bali kedua 1 October 2005 membuat saya dan keluarga memutuskan utk tetap menetap dan melanjutkan karir sebagai musisi di Australia. Selain itu trauma Bom Bali pertama 12 Oktober 2002 masih melekat di benak saya. Pacar saya(yang adalah istri saya sekarang) meninggalkan “Ground Zero” (pusat ledakan Bom) hanya sekitar 15 menit sebelum Bom meledak. Sakit kepala(migraine) yang membuat dia bergegas meninggalkan tempat itu dengan temannya. Saya selalu mengucap syukur sampai sekarang kepada Tuhan karena itu.

Sangat sulit mendapatkan Peluang Bermusik

      Ternyata memulai usaha sebagai penyanyi di Australia tidak semudah yang saya duga. Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga saya bekerja sebagai pencuci piring di sebuah hotel bintang empat selama 3,5 tahun. Sepanjang waktu itu saya meminta bahkan memohon kepada jajaran managemen untuk memperbolehkan saya mulai main musik di hotel yang sama. Karena aksen bahasa Inggris dan latar belakang yang adalah orang Indonesia mereka tidak yakin bahwa saya adalah penyanyi profesional. Saya mendengar ucapan yang lumayan pedas dari seorang manager, “Dalam bahasa apa anda akan bernyanyi?” Saya juga disarankan untuk bergabung dengan agency yang mengurus musik di hotel tersebut. Setelah mempersiapkan hal2 yg diperlukan pelecehan kembali terjadi. Agency melalui salah satu pegawainya mengatakan bahwa mereka sudah menerima data2 dan contoh musik saya tetapi “tidak akan mencarikan” gig/job musik untuk saya.

     Saya berhenti bekerja di hotel tersebut dan menjadi pengantar katalog promosi ke kotak-kotak pos rumah orang- orang di daerah tempat saya tinggal. Saya lakukan dengan gembira karena yakin suatu saat saya pasti dapat jalan. Selain itu saya bisa menyelipkan kartu nama musik saya didalam katalog – katalog tersebut. Karena penghasilan dari pekerjaan ini tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya putus asa dan menangis. Saya sangat frustasi dan membenci orang2 yg tidak memberikan saya kesempatan. Tetapi saya kemudian ingat bahwa saya anak TNI yg dididik berjiwa besar dan pantang menyerah. Selain itu kata2 dari motivator besar saya, Almarhum Raja Ubud Bali yang sudah seperti keluarga kami, Tjokorda Oka Sudharsana: “Jeg pokoknya Semangat!” Membuat saya bangkit dan terus berusaha mencari peluang untuk mendapatkan job musik tanpa henti. Kebencian karena korban rasialis dan pelecehan membuat saya sebaliknya malah bertekat dan semangat.

    Saya akhirnya mendapat jalan untuk tampil sebulan sekali di hotel tempat kerja saya sebelumnya. Adalah Leslie seorang supervisor restaurant di hotel tersebut yang simpati dengan usaha saya. Terima kasih Leslie. Dengan bantuan komuniti Indonesia – Australia yang banyak hadir saat pertunjukan setelah undangan saya lewat sms akhirnya bisnis musik saya perlahan berkembang (saat itu Face Book belum banyak digunakan). Karena musik yang bagus tidak menjamin mendapatkan banyak pekerjaan disini. Kemudian saya berusaha membranding konsep musik saya dengan “Versatile live music for all generations”. Selain tampil Solo saya juga tampil Duo dengan main gitar dan conga dimana kedua kaki saya juga memainkan tambourine dan stomp box sambil menyanyi sebagai lead vocal. Dari pengamatan saya sendiri bahwa membranding musik tidak akan berarti banyak tanpa promosi. Saya lalu mempromosikan musik saya sendiri via poster dan kartu bisnis yang saya letakkan di banyak toko2. Saya sangat berterima kasih kepada pegawai dan pemilik toko – toko tersebut yang mempunyai hati untuk menolong saya mempromosikan musik saya. Dari para pemilik toko yang adalah orang – orang Australia tersebut saya mendapatkan masukan bahwa mereka tidak Racist dan malah sebaliknya dengan tulus menolong usaha saya.

Rasisme

         Saat mulai mendapatkan kesempatan bekerja saya kadang juga menemukan orang2 yang rasis di tempat saya main musik. Dari cara mereka melihat saya saat baru datang sampai pada cara mereka bertanya untuk mengetahui kemampuan saya. Terkadang juga dari kata-kata candaan yang saya dengar dalam percakapan mereka tentang saya.
Yang kadang sangat menjengkelkan adalah saat saya berjalan menuju bar dimana saya main musik pertama kali ditempat itu. Dari luar saya bisa mendengar percapakan yang lumayan ramai dari pelanggan bar tersebut. Tetapi begitu saya buka pintu dan masuk, suara percakapan yang ramai tersebut mendadak senyap. Seperti ada yang mengecilkan “volume” suara ramai tersebut. Dahulu saya sempat kawatir dengan situasi itu. Tetapi setelah memperlajari kebanyakan karakter orang Australia yang “ingin pembuktian nyata” untuk bisa sportif mengakui kemampuan seseorang. Akhirnya saya menggunakan hal tersebut untuk meningkatkan jumlah penggemar grup saya.

    Saya memanfaatkan penampilan saya yang terlihat berbeda sebagai sebuah cara marketing untuk membedakan saya dari banyak musisi local. Dengan begitu saya akan mudah diingat 😉  Saat waktu istirahat atau setelah selesai pertunjukan saya sering mengobrol dengan penonton. Dari berinteraksi dengan mereka pikiran saya jadi lebih terbuka. Ternyata lebih banyak orang Australia yang saya temui sangat murah hati dan tulus untuk menolong mempromosikan musik saya. Mereka tidak jarang meminta beberapa kartu nama saya untuk diberikan kepada  saudara, teman2 bahkan manager-manager di Club favoritnya.

Menghibur Perdana Menteri Australia

     Suatu hari saya mendapatkan pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Perdana Menteri Australia saat itu, Julia Gillard mengunjungi restauran tempat saya tampil untuk makan siang bersama Bapak Walikota dan beberapa pejabat Australia. Luar biasa! Saya bisa mendekati beliau saat waktu istirahat, walaupun diawasi super ketat oleh para pengawalnya. Saya sempat berbincang bincang singkat dengan Beliau yang menyatakan suka dengan musik saya. Beliau sangat ramah dan mempersilahkan untuk mengambil foto bersama. Saya juga merasa sangat beruntung bisa dipilih oleh pemerintah daerah, Central Coast NSW untuk memberikan hiburan musik kepada sekitar 10.000 penonton saat istirahat tengah main pertandingan Rugby Nasional Australia (Video: http://budibone.com/music/).

Wajah Indonesia
Dengan pengalaman bermain musik yang cukup lama, jumlah lagu yang lumayan banyak dan kemampuan memainkan ritme yang berbeda – beda. Live musik saya disukai oleh penonton dalam kategori umur dari anak-anak, anak muda sampai orang tua. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa mereka tidak menduga bahwa aksen Indonesia dalam bahasa Inggris saya hilang saat saya menyanyi. Pujian tersebut tidak pernah menghentikan usaha keras saya yang terus menerus sampai sekarang mempelajari kata-kata pengucapan Bahasa Inggris yang sangat sulit dilafalkan oleh orang Asia pada umumnya. Saya selalu teringat dengan guru Bahasa Inggris saya di SMP, Bapak Gusti Oka yang begitu detail dan teliti mengajarkan kami dalam pengucapan Bahasa Inggris yang baik dan benar. Beliau sangat berjasa dalam hidup dan karir saya.

     Dan ternyata wajah Indonesia saya justru banyak memberikan kejutan akan kemampuan saya membawakan lagu – lagu dalam Bahasa Inggris dan bahkan lagu – lagu terkenal dari Australia. Wajah Indonesia…hmmm…akhirnya menjadi andalan pemasaran musik saya. Grup musik saya, Kuta Groove semakin berkembang lagi setelah seorang gitaris handal dari Bali, ZULU bergabung dua tahun terakhir ini.

Pekerjaan Tetap

       Sekarang musik adalah pekerjaan tetap saya disini. Kuta Groove tampil reguler di banyak Club, restaurant dan melakukan pertunjukan untuk banyak pesta juga festival. Banyak teman-teman kami orang Australia mengatakan bahwa kami sangat beruntung punya bakat musik dan hidup dalam pekerjaan yang diimpikan banyak orang. Karena sebaliknya tingkat stress tuntutan target di tempat mereka bekerja lumayan tinggi. Mereka juga mengatakan bahwa kemampuan seni orang Indonesia sangat berkualitas.

  Saya belum sukses sekali apalagi kaya. Tetapi bisa menghidupi keluarga, menyekolahkan dua anak kami dan bersama istri membayar cicilan rumah kecil kami serta bisa berlibur pulang kampung ke Bali setahun sekali. Memberi makan keluarga dari pekerjaan musisi di tanah orang adalah hal yang membanggakan dari darah seni Indonesia dalam tubuh saya. Saya merasa menang karena justru dengan latar belakang sebagai orang Indonesia memberikan kehidupan yang baik dan layak ditanah orang.

Tidak perlu berkecil hati karena Rasisme. Baik buruk ada di hati setiap orang bukan dari mana anda berasal. Kalau mau jujur tidak hanya disini, di Indonesia sekalipun banyak orang sampai melakukan kekerasan atas dasar Rasisme bahkan tega membunuh atas dasar yang sama.

Semoga kisah saya ini bisa menjadi motivasi untuk BANGGA SEBAGAI ORANG INDONESIA. Karena kenyataannya banyak orang asing yang justru kagum dengan Indonesia. Untuk lebih jelasnya tentang musik saya silahkan mengunjungi website saya, www.KutaGroove.com.au.

Silahkan sebarkan Kebanggaan Bangsa kita dengan menyebarkan artikel ini sebagai pendidikan terutama untuk generasi muda. Semoga mereka tidak selalu berpikir bahwa luar negeri selalu hebat dan didalam negeri selalu ketinggalan jaman. Mari mencipta dan berbanggalah dengan apa yang kita punyai.

Maju terus Indonesiaku. Merdeka!!!
TERIMA KASIH.
Hormat kami,
Budi Boné.

Silahkan simak salah sari penampilan kami hari Minggu, 19 July 2015 lalu di Video ini:

13 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *