Melawan kesewenang – wenangan sebagai pekerja Migran di Australia.

August 25, 2015 4:54 am

profile picture bog bog

Kami musisi dari Bali yang merantau ke Sydney Australia dan membentuk grup band bernama Kuta Groove Duet bulan November 2005 di Terrigal, Central Coast Australia. Band kami banyak dikenal sebagai Central Coast Wedding Band atau Central Coast Wedding Singers dan Party Band yang banyak tampil untuk banyak wedding/pesta penikahan dan party selain juga tampil regular di banyak restauran, hotel, pub dan club di Central Coast, Hunter Valley, Newcastle dan Sydney Australia.

Suatu hari kami dapat job di sebuah Restauran di Darling Harbor Sydney. Keunikan Duet kami, pilihan lagu dan cara kami membaca dan melibatkan penonton dalam penampilan kami membuat para pelanggan dan manager – manager menyukai penampilan kami. Kuta Groove mendapatkan banyak hari untuk tampil di salah satu Restauran yang terkenal tersebut.

Setelah satu setengah bulan tidak mendapatkan honor, saya mulai bertanya kepada manager yang dengan simpati menyatakan akan mengurus pembayarannya. Kami tetap melanjutkan untuk tampil di hari – hari yang sudah dijadwalkan. Dua bulan berlalu, giliran dua manager malah bertanya balik apakah kami sudah menerima gaji. Saya semakin curiga tentang apa sebenarnya yang terjadi dng managemen di restauran tersebut. Akhirnya setelah tiga bulan bayaran yang seharusnya kami terima yaitu $6,200 hanya dibayarkan setengahnya $3,100. Segera saya putuskan untuk membatalkan banyak pertunjukan selanjutnya yang sudah terjadwal. Hal ini menyebabkan kantor induk perusahaan dari Restauran yang cukup terkenal ini tidak senang.

Manager Keuangan Berbohong

Saat saya menelepon ke bagian pembayaran gaji di perusahaan tersebut, manager Keuangan yang bertugas menyatakan bahwa dia telah mengirimkan cheque pembayaran honor ke alamat saya. Hal ini membuat saya mengecek kotak surat didepan rumah saya setiap hari dengan hasil nihil, sama sekali tidak menemukan apa – apa. Benar – benar membuat saya kesal. Setelah mengecek ke dua kantor pos terdekat tetapi tidak membuahkan hasil, saya kembali menelepon manager bersangkutan. Dia kembali menyatakan bahwa dia memang telah mengirim cheque tersebut. Lalu saya tanyakan apakah saat dikirim amplop pengiriman didaftarkan dengan nomor khusus untuk memudahkan pelacakan. Manager tersebut menyatakan tidak. Malah kemudian manager keuangan tersebut menyarankan saya untuk tetap melanjutkan pertunjukan yang telah dijadwalkan. Bahkan saya juga mendapatkan email keluhan perusahaan karena kami membatalkan jadwal pertunjukan yang diberikan. Insting saya mengatakan bahwa perusahaan ini sedang berusaha memeras kami dengan mencari alasan agar tidak membayarkan honor kami. Tetapi dengan tegas saya menyatakan hal tersebut sangat tidak adil. Bagaimana mungkin kami harus tetap bekerja tanpa mendapatkan kepastian honor kami akan dibayarakan atau tidak. $3,100 (Rp 31.000.000)adalah jumlah uang yang lumayan besar untuk membayar banyak tagihan kebutuhan rumah tangga kami dimana biaya hidup disini sangat tinggi.

Seminggu setelah itu saya kembali menelepon dan menyatakan bahwa cheque masih belum saya terima. Bukannya mereka meminta maaf tetapi dengan sombongnya manager keuangan tersebut mengeluhkan sikap saya yang terus menerus meneleponnya. Ingin rasanya saya memaki makinya, tetapi saya berusaha keras untuk sabar karena sadar bahwa mereka bisa menggunakan makian dan amarah saya sebagai alasan untuk tidak melunasi honor kami.

Dengan berusaha tetap sabar saya menyarankan untuk membatalkan cheque tersebut dan membuat yang baru untuk dikirimkan lagi kepada saya. Tetapi manager keuangan tersebut menyatakan keberatan untuk melakukan itu dan seolah menyalahkan Australia post. Ini salah satu bukti kebohongannya.

Saya kemudian menerima email dari manager restauran yang simpati dengan kami tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan restauran tersebut. Banyak suplaiyer juga mengalami nasib yang sama. Dengan ini saya akhirnya tau bahwa manager keuangan di induk perusahaan itu memang berbohong. Saya sempat tidak percaya bahw hal seperti ini juga terjadi di Australia, negara yang lumayan makmur dan maju dengan hukum yang pasti serta sistemnya yang sangat teratur.

Kedua manager restauran mengundurkan diri

Karena simpati dengan kerja keras kami dan tau bahwa mereka digunakan oleh perusahaannya sendiri untuk menghadapi kami. Kedua manager restauran tersebut mengundurkan diri. Mereka kemudian mengirim email kepada saya tentang bagaimana perusahaan tempat mereka bekerja tidak menghargai kerja kami dan juga kerja keras mereka. Mereka bahkan juga sedang dalam usaha untuk melaporkan perusahaan tersebut yang ternyata tidak membayar simpanan uang pensiun kedua manager restauran tersebut ke Ombudsman disini.
Kemudian manager tersebut meminta maaf kepada kami dan bersedia tetap bekerjasama memberikan informasi apapun yang dibutuhkan untuk usaha mendapatkan honor kami.

Usaha Keras untuk mendapatkan sisa gaji

Setelah kedua manager restauran meninggalkan pekejaannya saya sadar bahwa saya harus berjuang sendiri mendapatkan honor kami. Saya juga merasa bersalah kepada rekan musisi di grup musik saya mendapatkan imbas buruk dari kejadian ini. Saya sempat frustasi dan sangat marah tetapi tidak bisa saya lampiaskan kepada pemilik perusahaan ataupun manager keuangan pembohong tersebut. Apalagi saya mendapatkan informasi bahwa salah satu manager yang masih bekerja tidak bisa berbuat banyak membantu kami karena ditekan oleh perusahaannya. Ternyata dia juga pekerja migran dan sedang bermasalah dng perijinan bekerjanya di Australia.

Saya semakin merasa sendiri untuk berjuang setelah mengetahui dari banyak musisi disini bahwa hal seperti ini juga pernah terjadi dengan beberapa dari mereka dimana akhirnya mereka pasrah untuk kehilangan honor hak mereka. Saya berusaha menimbulkan tekad dalam diri untuk mendapatkan hak kami. “Mereka bisa kurang ajar kepada musisi – musisi lain tetapi jangan pernah kepada kami musisi Indonesia yang akan memberikan pelajaran kepada mereka karena saya sudah pasang badan untuk Keadilan kami”.

Kemudian saya mengirimkan email kepada managemen perusahaan untuk menyatakan keluhan dan memberitau mereka bahwa saya akan menjalani jalur hukum untuk mendapatkan honor kami. Email tersebut sama sekali tidak pernah dibalas.
Terus terang dibalik keberanian saya sejujurnya saya bertanya juga kepada diri saya. Mampukan saya menuntut mereka di meja hijau karena saya tidak punya uang untuk menuntut perusahaan besar tersebut. Kalaupun punya uang, dari informasi yang saya dapatkan saya perlu membayar pengacara paling murah $10,000 sedangkan jumlah honor hak kami hanya $3,100.

Hampir setiap hari saya mengecek kotak surat untuk menemukan cheque walaupun tau bahwa mereka berbohong. Saya setiap hari juga mencari jalan secara online untuk mengetahui jalur mana yang harus saya tempuh. Kemudian saya ke pengadilan untuk mendapatkan informasi untuk penyelesaian kasus ini. Mereka menginformasikan bahwa bermain musik sama dengan wirausaha dan dikategorikan sebagai suplaiyer yang menyediakan jasa hiburan musik bukan pegawai perusahaan. Saya bisa menempuh dua cara ini melalui pengadilan disini:
1) Mendaftarkan gugatan.
Dengan mendaftarkan gugatan, perusahaan tersebut akan mendapatkan surat pemberitahuan bahwa saya akan menuntut perusahaan tersebut. Untuk mengurus surat ini biayanya dibawah $100. Ini bisa dilakukan hanya sebagai kejutan bahwa saya memang benar sedang melakukan upaya hukum. Tetapi apabila perusahaan tersebut tidak menanggapi saya harus melakukan upaya hukum selanjutnya yang tentunya akan berujung dengan melibatkan pengacara yang biaya jasanya paling murah $10.000.
2) Menggunakan jasa pengacara gratis yang disediakan oleh komuniti pengacara.
Hal ini bisa saya tempuh tetapi pengacara tersebut hanya sebatas menyarankan menyelesaikan pembayaran untuk kami dan posisinya sebagai penengah. Pada akhirnya kalau perusahaan tersebut tetap tidak mau membayar kami tidak punya kekuatan hukum apapun untuk memaksa perusahaan tersebut menyelesaikan hutangnya.

Kami kemudian ke Ombudsman dan mendapatkan jawaban serupa, bahwa kami bukan pegawai perusahaan tetapi suplaiyer penyedia jasa. Jadi mereka tidak bisa membantu. Kami sempat tidak percaya dengan sistem keadilan di Australia, tetapi saya pribadi tetap yakin bahwa pasti ada jalan keadilan untuk kami.

Doa kami dijawab olehNya

Saya kemudian berdoa dan menyarankan teman musisi saya juga untuk berdoa. Waktu berjalan dan tidak terasa sudah sekitar empat bulan kami berusaha mendapatkan hak kami. Suatu hari doa kami terjawab. Saya mendapatkan sebuah link yaitu website dari Australia Musisi Union yang bisa mengurus sengketa antara perusahaan dan pemain musik. Mereka ternyata juga mempunyai akses untuk melaporkan kecurangan perusahaan yang menimpa musisi kepada pemerintah disini. Saya kemudian menjadi anggota musisi union ini setelah membayar sekitar $200 per tahun. Sesudah mengontak dan berkoordinasi, pimpinan union meminta waktu untuk menyelidiki perusahaan ini.

Setelah dua minggu, waktu yang dijanjikan pimpinan union mengirimkan email yang membuat saya terkagum dengan usahanya. Email tersebut menginformasikan bagaimana rapi dan berkualitasnya usaha penyelidikan mereka yang berhasil mengidentifikasi Nama perusahaan pengelola restauran tersebut, kapan didirikan, nama pemilik, alamat kantor beserta detail kontaknya, dan juga beberapa informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi di perushaan ini.
Dua hari setelah email tersebut saya mendapatkan email berikutnya berupa salinan dari surat yang union akan kirimkan kepada perusahaan tersebut. Rangkuman surat tersebut berupa informasi tentang details penampilan kami di restauran mereka dan jumlah honor yang belum dibayarkan. Yang sangat menarik adalah union memerintahkan perusahaan tersebut untuk membayarkan gaji kami dalam tiga hari. Kalau tidak union akan menyerahkan penagihannya kepada debt collector/perusahaan penagih hutang resmi. Sedangkan biaya untuk penagihan hutang ini harus dibayarkan oleh perusahaan induk dari restauran ini sendiri seharga $350.

   Pada hari yang sama mereka menerima surat tersebut, mereka menelepon saya untuk minta maaf dan berjanji bahwa besok pagi cheque akan ada di kotak surat saya didepan rumah saya. Setiap detik dari suara ketakutan manager keuangan yang sebelumnya sangat sombong tersebut bagi saya seperti mendengarkan hiruk pikuk pesta Kemenangan dari usaha kami yang sangat panjang berliku. Satu hari setelah itu ternyata benar cheque dengan angka tagihan honor kami saya temukan di kotak surat saya. Saya kemudian dapat email dari manager keuangan tersebut untuk mengkonfirmasi bahwa cheque sudah saya terima. Tetapi saya tidak pernah membalas email tersebut.

Saya merasa bangga dan menang mengalahkan kesewenang – wenangan kepada kami pekerja migran dari Indonesia.

Beberapa minggu lalu saya mendapatkan surat dari perusahaan ini untuk menghadiri rapat penyelesaian hutang piutang. Ternyata perusahaan tersebut telah menyerahkan permasalahan hutang piutang kepada perusahaan khusus. Mereka berhutang puluhan bahkan ratusan ribu dolar kepada banyak suplaiyer. Saat menerima dokumen surat beserta keterangan detailnya saya merasa lebih menang lagi. Ternyata mereka telah membayarkan hutangnya kepada kami wirausahawan pertunjukan musik yang hanya beranggotakan dua orang sementara perusahaan suplaiyer yang besar belum mendapatkan pembayaran. Ini semua karena kami tetap pantang mundur dan juga bantuan dariNya untuk menuntut hak kami. Tidak hentinya ucap syukur kami panjatan KepadaNya dan Terima kasih banyak Musisi Union Australia. Saya menyarankan rekan – rekan musisi yang tampil di Australia dengan perijinan yang resmi dan memiliki Nomor Bisnis Australia (ABN: Australian Business Number) untuk bergabung dengan Musisi Union Australia ini.

Semoga pengalaman kami bisa jadi inspirasi teman – teman untuk pantang mundur saat mendapatkan ketidakadilan sebagai migran dan tidak pernah kecil hati saat menyadari darimana kita berasal. Terus berusaha melalui jalur yang benar dan pantang menyerah karena pasti ada jalan. Apalagi usaha kita mengikuti jalur dan perijinan yang resmi. Majulah Indonesiaku!

Ini adalah salah satu video penampilan kami. Silahkan menonton dan semoga terhibur.

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *