Bersabar dalam Kesusahan

September 10, 2015 11:02 am

9

Saya musisi dari Bali yang pindah ke Central Coast Australia tahun 2005. Sebelum band saya Kuta Groove dikenal sebagai Central Coast Private Function / Wedding Band di Central Coast, Sydney, Hunter Valley dan Newcastle NSW Australia. Saya bekerja di bagian laundry sebuah hotel berbintang empat di Central Coast NSW Australia.

Saya pindah ke bagian laundry sebagai pekerja honorer(casual) setelah beberapa tahun bekerja sebagai kitchen hand di Hotel yang sama. Seorang teman yang juga orang Indonesia sempat mengingatkan saya tentang tingkah laku seorang Supervisor wanita yang sering menyingkirkan orang – orang yang tidak disukainya secara pribadi. Beberapa pegawai keluar karena tingkah lakunya yang sering tidak sopan dan merasa paling berkuasa. Salah satu alasannya karena Manager wanita yang adalah teman baiknya menganggap dia selalu benar dan mendukung hal – hal yang sebetulnya melanggar kode etik di tempat kerja. Saya kurang tau kecurangan apa yang sebenarnya mereka lakukan dibalik itu sampai banyak pegawai yang keluar dari pekerjaan.

Perubahan sikap Supervisor

Setelah melewati masa training saya merasakan ada perubahan dari sikap Supervisor. Dari caranya  berbicara dengan saya dan juga cara menginstruksikan pekerjaan yang lebih bersikap memerintah kepada saya. Ada saja yang dicari – cari untuk menyalahkan saya. Kecepatan bekerja sering dijadikan alasan. Padahal tanpa sepengetahuannya saya selalu menghitung jangka waktu saya menyelesaikan suatu pekerjaan dengan pegawai yang lebih lama bekerja. Saya terus menerus berusaha lebih cepat dan detail dalam melakukan pekerjaan tetapi tetap saja ada alasan dari Supervisor ini untuk menegur dan mempersalahkan saya karena sebab yang saya rasa dibuat – buat. Seringkali saya mengucapkan Selamat pagi atau sore saat bertemu dan tidak dijawab. Karena sering terjadi saya langsung bertanya kepadanya apakah saya melakukan suatu kesalahan sehingga dia bersikap demikian. Tetapi kembali tidak mendapatkan jawaban.

Suatu pagi saya lebih dahulu datang ke tempat kerja sebelum Supervisor ini masuk ke ruang laundry tempat kami bekerja. Raut wajahnya seketika berubah setelah saya mengucapkan Selamat Pagi kepadanya. Sama seperti hari sebelumnya salam saya itu tidak dijawab. Walaupun timbul rasa kesal dalam diri saya tetapi tetap saya tahan. Sewaktu dia meminta bantuan mengangkat barang – barang kebutuhan laundry saya dengan senang membantu. Saat saya mengambil troley kemudian menanyakan barang – barang mana saja yang akan dibawa ke laundry. Bukannya menjawab Supervisor ini menggerutu dan menunjuk barang – barang tersebut dengan marah – marah. Dengan tersenyum saya bertanya mengapa dia marah – marah padahal pertanyaan saya sangat sederhana. Saya selanjutnya menanyakan apa masalahnya karena sejak datang ketempat kerja pagi itu dia sudah tidak senang melihat saya. Kembali pertanyaan saya itu tidak dijawab.

Hal ini membuat saya merasa tidak nyaman dalam bekerja. Saya kemudian memutuskan untuk bertemu dengan manager dan menjelaskan tentang masalah yang saya hadapi dengan Supervisor. Manager kemudian menyatakan akan mengecek dan menyelesaikan masalah saya dengan Supervisor. Berhari hari saya menunggu tindak lanjut manager untuk itu tetapi tidak terlaksana.

Ini yang saya lakukan saat mengalami tingkah laku Supervisor dan Manager yang semena – mena.

Saya kembali mengalami banyak kelakuan yang tidak baik oleh Supervisor, bahkan makian. Hari – hari kerja saya pun perlahan berkurang di daftar jam bekerja setiap minggunya. Ini menyebabkan berkurangnya pemasukan saya. Tanpa sepengetahuannya, saya mencatat setiap kejadian dan pelanggaran kode etik kerja yang dilakukan oleh Supervisor dan Manager lengkap dengan hari, waktu dan saksi yang berada disekitarnya.

Dalam sebuah percakapan sambil bekerja dengan rekan – rekan kerja juga dengan manager dan supervisor, seorang teman kerja menanyakan pekerjaan sampingan saya yaitu sebagai musisi. Karena pernah menonton penampilan saya dan ingin tau berapa harga menyewa band saya untuk acara pernikahan dan acara special lainnya. Tanpa berpikir panjang saya memberitaukan harga – harga yang ditanyakan. Tanpa saya sadari hal ini menjadi perhatian Supervisor dan Manager yang merasa heran dengan harga – harga menyewa band saya Kuta Groove yang dirasa lumayan mahal. Apalagi dari cara mereka bicara saya menyimpulkan bahwa mereka meremehkan musisi dan menyamakan pekerjaan musisi sebagai unskilled labor. Saya sebaliknya menjadi mulai mengerti bahwa mereka selama itu meremehkan saya hanya karena saya bawahan mereka dengan penghasilan yang jauh lebih rendah dari mereka.

Beberapa hari setelah itu saya dikejutkan oleh daftar hari kerja saya yang  berkurang dari yang sebelumnya sudah dikurangi. Dari biasanya sekitar 30 jam lebih per minggu menjadi hanya 9 jam. Pikiran saya kembali menjadi terbuka setelah mengingat – ingat kejadian pembicaraan tentang pekerjaan sampingan saya. Emosi saya kemudian memuncak karena frustasi memikirkan uang sewa rumah dan kebutuhan – kebutuhan rumah tangga lainnya yang semakin susah saya lunasi. Tetapi saya berusaha untuk menahannya dan tetap sadar bahwa saya tetap membutuhkan pekerjaan ini dan tidak bisa merusak hubungan saya dengan managemen Hotel hanya karena emosi saya. Saya teringat petuah kakek istri saya yang mengatakan “Apapun yang terjadi selalu tetap berusaha menyelesaikan permasalahan dengan baik karena kamu tidak tau suatu saat mungkin kamu akan kembali lagi karena membutuhkan pekerjaan itu”.

Bertemu manager

Saya kemudian bertemu manager untuk menanyakan sebabnya jam kerja saya berkurang sementara rekan – rekan yang lain bertambah. Sepertinya jam kerja saya itu dibagi bagikan kepada rekan – rekan kerja yang lain. Saya juga menanyakan apakah itu berhubungan dengan masalah yang saya hadapi dengan Supervisor. Dengan liciknya manager mengatakan tidak.

Ini tiga alasan Manager mengurangi jam kerja saya:
1) Saya mempunyai pekerjaan sampingan diluar, jadi saya tidak benar – benar membutuhkan pekerjaan di laundry.
Hal ini sangat melanggar aturan pekerja disini karena manager tidak mempunyai hak menutup pemasukan saya karena saya memiliki pekerjaan lain diluar pekerjaan di hotel. Dia tidak berhak mengatur penghasilan pribadi saya. Apalagi saya pekerja honorer dan tidak pernah menolak pekerjaan di laundry hanya karena lebih mengutamakan pekerjaan sampingan saya sebagai musisi.
2) Saya bisa mendapatkan pekerjaan tambahan di Kitchen tempat saya bekerja dulu.
Ini juga melanggar etika kerja karena dia hanya manager di bagian laundry bukan general manager yang bisa mengatur waktu kerja dan pemasukan untuk kebutuhan hidup saya dengan memberikan pekerjaan di departemen yang lain.
3) Dia mengutamakan para pekerja yang lebih lama bekerja di laundry daripada saya.
Saya menjawab bahwa hal ini tidak fair. Kalau saya bekerja kurang baik, adalah tugas supervisor memberitau agar saya bisa mengkoreksi pekerjaan saya. Kenyataan yang ada adalah bahwa manager memberikan waktu pekerjaan saya kepada pegawai lainnya.

Saya kemudian menanyakan lagi tiga alasan ini untuk mengkonfirmasi bahwa tiga hal itulah yang menyebabakan jam kerja saya berkurang menurut versi Manager tersebut. Dengan percaya diri manager mengkonfirmasi hal tersebut. Tanpa sepengetahuannya saya mencatat ketiga hal tersebut di hand phone saya beserta detail hari, jam, durasi waktu saya berbicara dengan manager dan teman kerja yang tau saat saya bertemu dengannya.

Saat pulang ke rumah saya luapkan kekesalan saya dengan mengecek seluruh catatan kesemena – menaan Supervisor dan Manager ini dari telepon seluler saya. Saya simpan dengan rapi dalam sebuah file di computer saya dan mengkopinya ke file online untuk lebih memastikan agar tidak hilang. Beberapa hari setelah itu saya mencari peluang kerja ditempat lain. Syukur kepada Tuhan saya mendapatkan pekerjaan sebagai Barista di sebuah café baru yang jaraknya sekitar 7 menit bisa saya tempuh dengan jalan kaki dari rumah kontrakan saya. Bersama istri saya merundingkan hal – hal mendetail untuk mengatasi masalah keuangan kami karena saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan di laundry hotel tersebut.

Reaksi Supervisor dan Manager ditempat kerja

Keesokan harinya saya menghadap ke manager untuk kemudian menyatakan bahwa saya keluar dari pekerjaan. Dengan berani saya menyatakan bahwa saya tau alasan hari dan jam pekerjaan saya dikurangi. Dan saya juga menyatakan bahwa tiga alasan yang diberikan untuk mengurangi hari kerja saya adalah tidak adil. Saya memperhatikan reaksi wajah manager yang terlihat menyembunyikan kegirangan. Kemudian saya pamitan ke luar ruang manager. Di pintu keluar saya memperhatikan manager yang keluar dari ruangannya dan langsung menemui supervisor. Saya bergegas kembali kedalam ruang laundry dan memperhatikan mereka dari belakang. Mereka berdua telihat sangat girang dan senang. Tetapi setelah mereka sadar saya memperhatikan dari belakang seketika mereka menundukan kepala dan pura – pura bekerja. Saat itu dalam hati saya mengatakan, “Silahkan tertawa sekarang dan saksikan siapa yang akan menertawakan kalian nantinya”.

Saya kemudian langsung menuju ruang Personalia Manager. Saya ungkapkan semua permasalahan yang terjadi. Ternyata personalia manager tidak terlalu terkejut dengan apa yang saya ungkapkan karena dia telah menerima keluhan – keluhan yang serupa dari para pekerjaa yang nasibnya sama seperti saya. Saya kemudian meminta untuk dibuatkan complain secara resmi yang kemudian disambut dengan baik oleh personalia manager ini. Setelah itu saya dipersilahkan untuk bertemu dengan asistennya yang juga dengan baik menjelaskan bahwa sebelumnya tidak ada pegawai yang keluar dan mau melaporkan keluhan secara resmi seperti apa yang saya lakukan. Saya kemudian diminta untuk menjelaskan kejadian – kejadian ketidakadilan yang saya alami. Kemudian saya mendapatkan penjelasan tentang aturan dan hukum yang berlaku di Australia sehubungan dengan kejadian yang saya alami. Lalu saya ditanya apakah saya bisa memperkuat laporan keluhan saya dengan bukti – bukti. Saya menyatakan bahwa sejak mulai mengalami masalah dengan supervisor dan manager saya mencatat permasalahan tersebut lengkap dengan detail waktu dan para saksi. Asisten personalia manager memuji cara saya mendapatkan bukti – bukti tersebut karena memang hal – hal itu yang sangat dibutuhkan dalam laporan. Asisten manager kemudian meminta waktu dua hari untuk bisa bertemu dan membicarakan permasalahan saya dengan General Manager.

Setelah dua hari saya mendapatkan telepon untuk bertemu dengannya. Ternyata laporan keluhan itu seperti BAP (Berita Acara Pemeriksaan) di Indonesia. Kebetulan saya pernah mempunyai pengalaman melengkapi BAP saat saya masih di Bali. Laporan tersebut bisa dengan cepat terselesaikan karena catatan bukti – bukti yang saya miliki. Dia kemudian menjelaskan juga bahwa tiga alasan berkurangnya waktu kerja saya oleh manager di laundry departemen benar – benar melanggar hukum ketenagakerjaan di Australia. Lega rasanya mendengar hal tersebut.

Apa yang terjadi dengan Supervisor dan Manager

Saya kemudian bekerja di tempat yang baru, ruangan baru, pekerjaan dan teman kerja yang baru sebagai Barista. Saya bisa lebih mudah beradaptasi terutama dengan rekan – rekan kerja dan senang dengan gaji yang lebih baik daripada sebelumnya di laundry hotel tersebut.

Beberapa bulan setelah itu saya bertemu dengan mantan teman kerja di laundry yang menjelaskan bahwa manager di laundry tersebut akhirnya keluar dari pekerjaan dengan alasan utamanya adalah saya. Ternyata laporan keluhan saya itu ditanggapi sangat serius oleh General Manager yang memberikan dua pilihan seperti pilihan” makan buah simalakama”. Pilihan tersebut adalah keluar dari pekerjaan atau tetap bekerja dengan posisi sama seperti pekerjaan saya sebelumnya sebagai pegawai honorer di hotel tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar meninggalkan pekerjaan tetap sebagai manager yang bertahun – tahun dilakukannya. Nasib Supervisor sedikit lebih beruntung. Dia masih bisa bekerja di hotel tersebut dengan pengontrolan ketat karna mendapatkan peringatan keras dari managemen untuk tidak mengulangi tingkah lakunya yang tidak baik.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena diingatkan untuk selalu sabar didalam penderitaan. Saya juga senang karena bisa menjadikan tempat kerja itu setidaknya sebagai tempat kerja dengan pimpinan baru yang tentunya bisa belajar dari kesalahan pimpinan sebelumnya. Semoga kisah ini bermanfaat bagi rekan – rekan yang sudah dan akan bekerja di Australia. “Don’t burn the bridges behind you”. Semoga ungkapan ini bisa dijadikan sebagai moto untuk menyelesaikan masalah dengan sabar dan “benar” baik didalam pekerjaan maupun kehidupan kita. Sekarang moto ini menjadi moto dari bisnis musik saya, Central Coast Wedding / Private Party Band di Sydney, Central Coast, Hunter Valley dan Newcastle NSW Australia. “Bersabarlah dalam Kesusahan”. Silahkan share apabila berkenan.

Dibawah ini adalah salah satu video live music kami. Semoga anda terutama para penggemar Bon Jovi bisa terhibur:

3 Comments

  • budi di manado indonesia says:

    luar biasa pengalaman untuk melawan ketidakdilan,
    bahwasanya setiap manusia memiliki hak untuk menfkahi dirinya. namun itulah manusia yg rakus kekuasaan, telah menyalahgunakan wewenangnya.

    demikiannlah selalu yg dirasakan semua musisi. yaitu org merasa cemburu dgn musisi,

    sy juga byk sekali mengalami hal yg sama dengan anda.

    hanya seijin YANG KUASA kalau itu berkat kita.

    salam pertemanan bro !!!

    sukses dirantau..

  • fery says:

    Dear pak budi. Sangat mengesankan kisah hidup anda apalagi di negri orang. Kebenaran & keadilan pada akhirnya akan selalu menang pak ;). By the way pak budi saya tinggal di jawa barat dan mempunyai usaha pembuatan miniatur alat musik seperti gitar bass drum dan lainnya. Apakah memungkinkan kita dapat bekerjasama dalam memasarkan kerajinan tangan orang indonesia yang berhubungan dengan musik agar bisa dikenal di aussy ? Mohon reply email saya jika terbuka peluang untuk itu. Terima kasih pak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *